Di saat jenuh saya ingin menulis sambil berharap kadar kejenuhannya menurun melalui tulisan ini. Seperti gunung-gunung berapi di Pulau Jawa kata salah seorang mahasiswa geografi yang pernah saya temui bahwa suatu keuntungan tersendiri jika gunung-gunung itu meletus secara berkala. Ia perlahan mengeluarkan gas yang ada di perutnya ketimbang pada satu waktu tertentu gas tersebut meletus dari akumulasi besar gas-gas yang belum pernah dikeluarkan. Di satu sisi itu adalah reaksi alam atas rancangan pasti-NYA.
Terlepas dari reaksi alam itu sendiri jika melihat kebelakang garis sejarah, bencana alam menjadi satu ajang dalam melakukan seleksi dari sang pencipta untuk mendapatkan bibit-bibit yang benar-benar setia dan memiliki ikatan hati dengan ajaran-NYA. Hal ini dibuktikan dengan dihancurkannya bendungan Ma’rab pada zaman nabi Nuh.
Kadang saya berpikir ditengah hingar bingar kesibukan yang ada ‘apakah ini sudah benar?’,’apakah ini akan memberikan manfaat yang sebaik-baiknya kehidupan?’ yang saya sendiri masih mencoba mengimprovisasi agar segalanya sesuai dengan standar yang sebenarnya. Hal-hal yang belum pada proporsi yang semestinya, ditengah hati dan pemikiran yang belum jg bisa menerima, ditengah ketidaktahuan, ditengah kebodohan, ditengah keengganan, keakuan diri, kurang pengorbanan dan berbagai dudut pandang subjektif yang hidup ditengah alam keasadaran saya saat ini. Hanyalah karunia dari-NYA
Bebeberapa fakta telah diperlihatkan dan memberikan perubahan yang jauh dari yang selama ini diketahui. Tanggapan-tanggapan, kebiasaan dan pola pikir yang sungguh selama ini telah menjerat hati dan pikiran menjadi kabur, ‘ternyata’. Dan ‘ternyata’ tidak mudah melepaskan budaya yang telah membekas dan menjadi satu karakter. Kelak kedepannya menentukan jalannya garis kehidupan setiap pribadi, bahkan sekelompok pribadi hingga pada akhirnya adalah bangsa. Ketika telah dan ‘mungkin’ masih harus merasakan cepatnya detakan jantung, rasa khawatir, takut, bahkan sesak dada dan pilu hingga tak henti berpikir, harapan terbesar adalah menjadi berada dalam track yang digariskan-NYA, kendati dalam perjalanannya harus menghadapi bermacam-macam isi kepala dan mengerahkan segala hingga membuat diri ini merasa sulit untuk melewati sungai yang membentang dan harus dilewati demi sampai ke seberang.
Karena hidup itu adalah menurut satu pilihan. Melakukan adjustment setelah decision dan alternative untuk mengambil yang satu dan mengorbankan lainnya. Saya baru memahami kata-kata ini, setelah sekian lama, setelah melepas dan membuka maka akan ada yang masuk. Mudah-mudah yang masuk menjadi mengisinya dengan suatu yang bermanfaat dan terbaik menurut-NYA. Bismillah hirahman nir rahim.
-Dalam menyusun titik-titik-








